Lelembut

Apa itu Lelembut?

Lelembut berasal dari Bahasa Jawa yang artinya adalah makhluk halus. Secara etimologi, bentuk dasarnya adalah lembut yang artinya “tak bisa disentuh” dan pengulangan dwipurna yang menambahkan makna “memiliki sifat”.

Dalam buku Religion of Java yang merupakan hasil penelitian antropolog Clifford Geertz, Lelembut didefinisikan secara spesifik sebagai makhluk halus yang menyebabkan kerasukan.

Namun bagi sebagian masyarakat, Lelembut merupakan nama umum untuk golongan makhluk halus, jadi wujudnya bisa saja Genderuwo, Wewe, Jin, dan banyak lainnya.

Asal

Kepercayaan tentang Lelembut telah lama mengakar pada masyarakat Jawa dan masih dipercaya hingga kini.

Wujud

Ada yang mengklasifikasikan Lelembut adalah makhluk halus yang berwujud menyerupai hewan.

Namun dari tulisan Geertz, Lelembut juga beraktivitas dan memiliki golongan layaknya manusia. Jadi ada kemungkinan bahwa Lelembut berwujud seperti manusia, hanya saja fisik mereka tak kasat mata.

Perilaku

Menurut Geertz, bangsa Lelembut juga memiliki golongan seperti masyarakat Jawa, yakni santri, abangan, dan priyayi. Yang dari kalangan santri biasanya bernama awalan kiai, memiliki masjid dan bersembahyang seperti manusia beragama Islam. Yang dari kalangan abangan ada yang bernama Sapu Jagad, sedangkan yang dari kalangan priyayi memiliki nama-nama bangsawan Jawa seperti awalan raden.

Lelembut juga memiliki tempat tinggal seperti di rumpun bambu, reruntuhan bangunan, jembatan, gunung, laut, dan tempat-tempat yang dirasa angker. Sama seperti manusia, antar Lelembut juga suka berkunjung satu sama lain.

Dalam ajaran Jawa, Lelembut minum minuman keras seperti arak dan makan sesajen yang terdiri dari beberapa jenis kembang, daun, dan kemenyan. Menu-menu tersebut biasanya diminta oleh Lelembut ketika merasuki seseorang, mereka baru mau meninggalkan tubuh korban setelah disediakan dan menyantapnya.

Dalam merasuki tubuh manusia, ada yang percaya Lelembut akan melewati bagian bawah kaki. Menurut informan Geertz, itulah yang menjadi alasan orang membasuh kaki sebelum bersembahyang di masjid. Selain itu, juga dianjurkan bagi seseorang yang hendak menjenguk bayi yang baru lahir untuk menghangatkan telapak kaki di atas tungku. Ini karena bayi dipercaya mudah mengalami gejala kemasukan makhluk halus yang disebut dengan peristiwa sawanen. Kepercayaan lain yang mungkin lebih populer, menyebut bahwa Lelembut lebih suka masuk melewati kepala. Itulah sebabnya orang tua dulu suka menutup ubun-ubun bayi dengan campuran bawang, merica, serta parutan kepala yang dipercaya menjauhkan bayi dari Lelembut.

Interaksi

Interaksi antar Lelembut dan manusia terjadi bisa karena kesembronoan atau ketidaksengajaan manusia ketika berada di lokasi yang ada Lelembutnya, mengingat mata manusia tak bisa melihat Lelembut. Interaksi antara keduanya biasa berakhir dengan peristiwa kerasukan yang diikuti dengan sakit, kegilaan, atau bahkan berakhir dengan kematian.

Dalam studinya di Jawa Timur, salah satu narasumber Geertz yang merupakan pegawai rumah sakit menggolongkan interaksi dengan Lelembut menjadi enam jenis.

Yang pertama adalah kesurupan yang berasal dari kata surup yang artinya masuk atau memasuki sesuatu. Dalam Bahasa Jawa, surup juga berarti waktu matahari terbenam. Periode surup dipercaya merupakan waktu favorit Lelembut dan makhluk halus lainnya untuk beraktivitas, walaupun jam 12 siang dan tengah malam juga sama berbahayanya. Peristiwa kesurupan merupakan fenomena yang paling umum dalam interaksi manusia dan Lelembut. Untuk mengatasinya biasanya didatangkan dukun atau orang pintar untuk membantu mediasi lalu mengusir Lelembut dari tubuh korban.

Jenis kedua adalah kampir-kampiran, yang secara harfiah berarti mampir untuk singgah sebentar. Mirip kesurupan, kampir-kampiran juga peristiwa dimana seseorang dimasuki oleh Lelembut. Bedanya, Lelembut yang merasuki tidak berasal dari daerah sekitar, melainkan Lelembut yang sedang lewat untuk mengunjungi kerabatnya lalu “menabrak” manusia di perjalanannya.

Jenis ketiga adalah kampel-kampelan yang efeknya tidak begitu terlihat. Jenis kerasukan ini menyebabkan keanehan pada perilaku seseorang, namun bersifat sementara atau datang-hilang. Karena sifatnya yang ringan, untuk menyebuhkannya pun cukup dengan mandi saja.

Jenis keempat adalah setanan yang mirip kampel-kampelan tapi lebih serius. Orang yang kerasukan akan sakit namun tidak parah dan masih bisa beraktivitas seperti biasa. Untuk menyembuhkan perlu bantuan dukun. Sang dukun akan mencari tahu dimana ia kemasukan setan dan menyuruhnya menyiapkan ulih-ulih atau sajen agar sang makhluk halus mau meninggalkan tubuhnya dengan damai.

Jenis kelima disebut kejiman yang sebenarnya peristiwa sama, namun yang memasukinya bukanlah setan melainkan jin dari Arab. Orang yang terkena tidak akan jatuh sakit, namun akan bertingkah di luar kebiasannya. Misalnya ia akan makan dalam porsi yang sangat banyak, atau sebaliknya, bepergian jauh tanpa makan sama sekali.

Jenis terakhir adalah kemongmong, yang merupakan persekutuan dengan setan. Orang yang dirasuki secara sukarela membiarkan setan merasuki tubuhnya. Ia kemudian menjadi setengah gila namun memiliki kesaktian tertentu seperti bisa mengobati penyakit.

Dalam Budaya Populer

Lelembut dipakai sebagai nama salah satu rubrik pada majalah legendaris berbahasa Jawa Panjebar Semangat. Dalam rubrik alaming lelembut, majalah yang pertama terbit tahun 1933 itu menawarkan berbagai cerita horor dan mistis yang cukup populer bagi pembaca.

Ditulis oleh Kuncen pada 13 Nov 2020