Wilwa

Apa itu Wilwa?

Wilwa atau sering salah ditulis Wilwo atau Welwo berasal dari Bahasa Jawa dijawil yang artinya “dicolek” dan digawa yang artinya “dibawa”. Sesuai namanya tersebut, maka Wilwa adalah makhluk halus yang dipercaya sering menculik manusia.

Asal

Kepercayaan tentang hantu Wilwa telah lama berkembang di Jawa, hal ini tercatat pada buku De Javaansche Geestenwereld karya H. A. Van Hien yang terbit pertama tahun 1896.

Menurut buku #Hantupedia: Ensiklopedia Hantu-Hantu Nusantara, Wilwa sangat dipercaya oleh warga yang tinggal di sekitar lereng Gunung Merapi yang meliputi Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Wujud

Van Hien mendeskripsikan De Wilwa sebagai hantu yang bisa terbang dengan ukuran yang besar dan wujud yang beragam.

Sedangkan menurut kepercayaan warga sekitar lereng Gunung Merapi, Wilwa berwujud seperti manusia dengan wajah bopeng dan dua tangan yang panjangnya hampir menyamai tinggi badannya.

Perilaku

Menurut Van Hien, eksistensi Wilwa adalah untuk mengambil jiwa manusia. Orang yang ia jawil akan dibawanya menghilang selamanya dan harus mati.

Berkebalikan dengan mitos di lereng Merapi, Wilwa justru diyakini tidak berbahaya. Ia suka mengambil anak-anak untuk ditimang, tidak untuk disakiti dan bakal dikembalikan. Wilwa juga suka menengok anak-anak yang sedang tidur di tengah malam.

Interaksi

Ketika memasuki waktu Maghrib, orang tua biasa meminta anaknya untuk bergegas pulang. Bila tak menurut, mereka bisa saja berjumpa dengan Wilwa. Kedatangannya diawali dengan suara tangannya yang terseret di atas tanah. Lalu diambillah seorang anak untuk ditimang. Konon anak yang diambil Wilwa tidak akan menolak dan menurut saja ketika ditimangnya.

Dalam Budaya Populer

Nama Wilwa “muncul” pada film Lampor: Keranda Terbang keluaran tahun 2019. Sang Lampor menyebut-nyebut nama Wilwa ketika menjalankan aksinya. Hal ini aneh, mengingat literatur Van Hien menyebut bahwa keduanya adalah dua “spesies” hantu yang berbeda. Hal ini mungkin karena perbedaan cerita di daerah asal sang sutradara/penulis film atau memang sengaja “digabung” sebagai dramatisasi.

Ditulis oleh Kuncen pada 1 Jan 2021